Penilaian Tengah Semester (PTS) atau Ujian Tengah Semester (UTS) merupakan momen penting bagi siswa untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka terhadap materi yang telah dipelajari selama satu semester. Bagi siswa Kelas 8 Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang mendalami Pendidikan Agama Islam (PAI), persiapan yang matang sangatlah krusial. Semester 2 biasanya menyajikan materi yang lebih mendalam dan aplikatif, sehingga penguasaan konsep menjadi kunci keberhasilan.
Artikel ini hadir untuk membantu Anda dalam mempersiapkan diri menghadapi PTS/UTS PAI Kelas 8 Semester 2. Kami akan menyajikan berbagai contoh soal yang mencakup topik-topik penting, disertai dengan pembahasan yang terperinci. Dengan memahami contoh soal dan cara penyelesaiannya, diharapkan Anda dapat lebih percaya diri dan meraih hasil yang optimal.
Pentingnya Memahami Materi PAI Kelas 8 Semester 2
Materi PAI Kelas 8 Semester 2 umumnya berfokus pada beberapa pilar utama, yaitu:

- Al-Qur’an dan Hadis: Memahami surah-surah pilihan, hukum bacaan tajwid, serta hadis-hadis tentang akhlak mulia dan ibadah.
- Akidah Akhlak: Mempelajari sifat-sifat Allah SWT, akhlak terpuji (seperti jujur, adil, amanah), dan akhlak tercela yang harus dihindari.
- Fikih: Membahas tata cara ibadah praktis seperti salat sunah, puasa sunah, zakat, dan haji/umrah.
- Sejarah Peradaban Islam: Mengulas perkembangan Islam pada masa klasik, seperti sejarah Nabi Muhammad SAW periode Madinah, Khulafaur Rasyidin, hingga Dinasti Umayyah dan Abbasiyah.
Penguasaan materi-materi ini tidak hanya penting untuk kelulusan PTS/UTS, tetapi juga untuk membentuk pribadi muslim yang beriman, berakhlak mulia, dan memiliki pemahaman yang baik tentang agamanya.
Format Soal PTS/UTS PAI Kelas 8 Semester 2
Umumnya, soal PTS/UTS PAI Kelas 8 Semester 2 terdiri dari beberapa tipe:
- Pilihan Ganda: Soal yang menyajikan beberapa pilihan jawaban, di mana siswa harus memilih satu jawaban yang paling tepat.
- Isian Singkat: Soal yang meminta siswa mengisi bagian yang kosong dengan jawaban yang benar.
- Uraian Singkat: Soal yang meminta siswa menjelaskan suatu konsep atau memberikan contoh dalam beberapa kalimat.
- Uraian Panjang: Soal yang meminta siswa menjelaskan suatu topik secara lebih mendalam, menganalisis, atau memberikan pendapat berdasarkan dalil.
Mari kita mulai dengan contoh-contoh soal dari setiap tipe.
Bagian 1: Soal Pilihan Ganda
Soal pilihan ganda dirancang untuk menguji pemahaman siswa terhadap konsep-konsep dasar dan fakta-fakta penting dalam materi PAI.
Contoh Soal 1 (Al-Qur’an dan Hadis):
Perhatikan surah Al-Ma’un berikut:
اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَ
Ayat yang menjelaskan tentang orang-orang yang lalai dalam salatnya adalah…
A. فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَ
B. وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِ
C. الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ
D. الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَ
Pembahasan:
Ayat yang secara eksplisit menyebutkan "orang-orang yang lalai dalam salatnya" adalah الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ. Ayat ini menekankan pentingnya kekhusyukan dalam salat dan menghindari kelalaian. Pilihan A dan B menjelaskan tentang orang yang mendustakan agama dengan cara menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Pilihan D menjelaskan tentang sifat riya (pamer) dalam salat.
Contoh Soal 2 (Akidah Akhlak):
Sifat wajib bagi Allah yang berarti "Mahakuasa" adalah…
A. Al-Qayyum
B. Al-Qadir
C. Al-Alim
D. Al-Basir
Pembahasan:
Dalam Asmaul Husna, sifat "Mahakuasa" atau "Mahakuat" dijelaskan dengan Al-Qadir. Al-Qayyum berarti Maha Berdiri Sendiri, Al-Alim berarti Maha Mengetahui, dan Al-Basir berarti Maha Melihat.
Contoh Soal 3 (Fikih):
Salah satu tata cara pelaksanaan salat sunah Dhuha adalah dilaksanakan setelah matahari terbit dan ketinggiannya setinggi tombak, hingga sebelum masuk waktu salat Zuhur. Salat Dhuha minimal dilaksanakan sebanyak… rakaat.
A. 1
B. 2
C. 4
D. 6
Pembahasan:
Salat Dhuha memiliki batas minimal pelaksanaan, yaitu dua rakaat. Namun, jumlah rakaatnya bisa lebih banyak, maksimal 12 rakaat. Jawaban yang paling tepat untuk jumlah minimal adalah 2 rakaat.
Contoh Soal 4 (Sejarah Peradaban Islam):
Periode pemerintahan yang dikenal sebagai masa keemasan ilmu pengetahuan dan kebudayaan dalam Islam, ditandai dengan banyaknya penerjemahan kitab-kitab dari berbagai peradaban, adalah masa kekhalifahan…
A. Umayyah
B. Abbasiyah
C. Utsmaniyah
D. Fatimiyah
Pembahasan:
Masa keemasan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam, termasuk gerakan penerjemahan besar-besaran, terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah, terutama pada masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid dan Al-Makmun.
Bagian 2: Soal Isian Singkat
Soal isian singkat menguji kemampuan siswa untuk mengingat dan menyebutkan istilah atau konsep spesifik.
Contoh Soal 1 (Al-Qur’an dan Hadis):
Hukum bacaan tajwid yang terjadi ketika ada huruf nun mati atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah berikut: ي، ن، م، ل، و، ر disebut hukum bacaan _____.
Pembahasan:
Hukum bacaan tersebut adalah Idgham Bighunnah.
Contoh Soal 2 (Akidah Akhlak):
Sikap yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan pujian atau sanjungan dari orang lain, baik dalam ucapan maupun perbuatan, disebut _____.
Pembahasan:
Sikap tersebut adalah Riya.
Contoh Soal 3 (Fikih):
Salah satu syarat wajib zakat fitrah bagi muzakki adalah memiliki harta yang cukup untuk kebutuhan diri sendiri dan keluarga pada hari raya Idul Fitri dan _____.
Pembahasan:
Malam harinya (malam Idul Fitri).
Contoh Soal 4 (Sejarah Peradaban Islam):
Tokoh yang mendirikan Dinasti Umayyah dan menjadi khalifah pertama dari dinasti tersebut adalah _____.
Pembahasan:
Mu’awiyah bin Abu Sufyan.
Bagian 3: Soal Uraian Singkat
Soal uraian singkat meminta siswa untuk menjelaskan suatu konsep atau memberikan contoh dalam kalimat yang ringkas.
Contoh Soal 1 (Al-Qur’an dan Hadis):
Sebutkan dua hikmah yang dapat diambil dari mempelajari surah Al-Ma’un!
Pembahasan:
Dua hikmah dari mempelajari surah Al-Ma’un antara lain:
- Menjauhi sifat kikir dan egois, serta selalu berbagi dengan sesama, terutama yang membutuhkan.
- Menjaga kekhusyukan dan kesadaran dalam melaksanakan salat, serta tidak melakukan salat hanya untuk pamer.
Contoh Soal 2 (Akidah Akhlak):
Berikan dua contoh perbuatan yang mencerminkan akhlak terpuji jujur dalam kehidupan sehari-hari!
Pembahasan:
Dua contoh perbuatan jujur dalam kehidupan sehari-hari:
- Mengakui kesalahan yang telah diperbuat kepada orang tua atau guru, tanpa menyalahkan orang lain.
- Mengembalikan barang yang bukan milik kita kepada pemiliknya dengan segera, meskipun tidak ada yang melihat.
Contoh Soal 3 (Fikih):
Sebutkan dua perbedaan mendasar antara salat Jumat dan salat Zuhur!
Pembahasan:
Dua perbedaan mendasar antara salat Jumat dan salat Zuhur adalah:
- Salat Jumat wajib dilaksanakan berjamaah di masjid oleh laki-laki, sedangkan salat Zuhur boleh dilaksanakan sendiri atau berjamaah, baik laki-laki maupun perempuan.
- Salat Jumat terdiri dari dua rakaat dengan dua khutbah sebelumnya, sedangkan salat Zuhur terdiri dari empat rakaat tanpa khutbah.
Contoh Soal 4 (Sejarah Peradaban Islam):
Siapakah Khulafaur Rasyidin dan sebutkan nama mereka!
Pembahasan:
Khulafaur Rasyidin adalah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang diangkat menjadi pemimpin umat Islam setelah wafatnya Nabi. Nama-nama Khulafaur Rasyidin adalah:
- Abu Bakar Ash-Shiddiq
- Umar bin Khattab
- Utsman bin Affan
- Ali bin Abi Thalib
Bagian 4: Soal Uraian Panjang
Soal uraian panjang membutuhkan analisis, pemikiran kritis, dan kemampuan untuk menguraikan suatu topik secara mendalam dengan dukungan dalil jika diperlukan.
Contoh Soal 1 (Al-Qur’an dan Hadis):
Jelaskan kandungan makna surah Al-Kafirun dan sebutkan salah satu hikmah yang dapat diambil dari mempelajari surah tersebut! Kaitkan dengan toleransi beragama dalam Islam.
Pembahasan:
Surah Al-Kafirun memiliki makna yang sangat penting dalam ajaran Islam, terutama terkait dengan prinsip toleransi beragama. Surah ini diturunkan sebagai respons terhadap ajakan kaum kafir Quraisy Mekkah yang meminta Nabi Muhammad SAW untuk menyembah berhala mereka selama satu tahun, dan bergantian kaum Muslim menyembah Allah SWT selama satu tahun.
Kandungan utama surah Al-Kafirun adalah penegasan bahwa Islam adalah agama yang murni dan tidak dapat dicampuradukkan dengan syirik atau kekafiran. Ayat-ayatnya secara tegas menyatakan:
- Ayat 1-2: "Katakanlah (Muhammad): ‘Hai orang-orang kafir,’ ‘Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.’" Ini adalah penolakan tegas terhadap penyembahan berhala dan segala bentuk kemusyrikan.
- Ayat 3-4: "Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah." Ini menunjukkan perbedaan fundamental antara tauhid (keesaan Allah) yang diajarkan Islam dengan politeisme yang dianut kaum kafir.
- Ayat 5-6: "Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah." Pengulangan ini semakin mempertegas pemisahan keyakinan dan praktik ibadah.
- Ayat 6: "Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku." Ayat inilah yang menjadi dasar utama toleransi beragama dalam Islam. Islam mengakui hak setiap individu untuk memeluk agamanya sendiri dan tidak memaksakan keyakinan. Namun, toleransi ini bukan berarti mencampuradukkan keyakinan atau membenarkan segala praktik yang bertentangan dengan akidah Islam.
Hikmah yang dapat diambil dan kaitannya dengan toleransi beragama:
Surah Al-Kafirun mengajarkan kepada umat Islam bahwa toleransi bukan berarti kompromi dalam masalah akidah. Kita harus menghargai keyakinan orang lain dan tidak boleh memaksakan kehendak, tetapi pada saat yang sama, kita harus tetap teguh pada keyakinan tauhid kita. Toleransi beragama dalam Islam berarti hidup berdampingan secara damai dengan pemeluk agama lain, menghormati hak-hak mereka, dan tidak mengganggu ibadah mereka, selama mereka juga menghormati ajaran Islam. Namun, dalam urusan akidah dan ibadah, tidak ada kompromi.
Contoh Soal 2 (Akidah Akhlak):
Jelaskan pengertian tawaduk dan berikan tiga contoh nyata perilaku tawaduk dalam kehidupan seorang pelajar!
Pembahasan:
Tawaduk adalah sikap rendah hati, tidak sombong, dan tidak merasa lebih unggul dari orang lain. Seseorang yang tawaduk menyadari bahwa segala kelebihan yang dimilikinya adalah karunia dari Allah SWT semata, dan ia tidak memandang rendah orang lain yang mungkin memiliki kekurangan. Tawaduk adalah lawan dari takabur (sombong).
Tiga contoh nyata perilaku tawaduk dalam kehidupan seorang pelajar:
- Menghormati Guru dan Orang Tua: Seorang pelajar yang tawaduk akan selalu bersikap hormat kepada guru dan orang tuanya, mendengarkan nasihat mereka dengan baik, dan tidak membantah dengan kasar. Ia menyadari bahwa ilmu dan bimbingan yang diberikan berasal dari mereka atas izin Allah.
- Tidak Sombong dengan Prestasi: Ketika seorang pelajar meraih prestasi akademik atau non-akademik, ia tidak lantas menjadi sombong atau merasa lebih pintar dari teman-temannya. Ia akan bersyukur kepada Allah, membagikan ilmunya kepada teman yang membutuhkan, dan tetap berusaha untuk terus belajar tanpa merendahkan usaha orang lain.
- Menerima Kritik dengan Lapang Dada: Pelajar yang tawaduk akan menerima kritik atau masukan dari guru maupun teman dengan lapang dada, tanpa merasa tersinggung atau defensif. Ia akan melihat kritik sebagai peluang untuk memperbaiki diri dan belajar dari kekurangan yang mungkin tidak ia sadari sebelumnya. Ia tidak akan merasa malu untuk mengakui jika memang ada kesalahannya.
Contoh Soal 3 (Fikih):
Jelaskan tata cara pelaksanaan salat sunah Rawatib dan sebutkan contoh salat sunah Rawatib yang mengiringi salat fardu!
Pembahasan:
Salat sunah Rawatib adalah salat sunah yang dilaksanakan sebelum atau sesudah salat fardu. Salat ini sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan besar dan dapat menambal kekurangan salat fardu. Terdapat dua jenis salat sunah Rawatib:
- Rawatib Muakkadah (Sangat Dianjurkan): Salat sunah yang sangat ditekankan pelaksanaannya dan memiliki keutamaan besar.
- Rawatib Ghairu Muakkadah (Dianjurkan): Salat sunah yang juga dianjurkan, namun tidak sekuat Rawatib Muakkadah.
Tata cara pelaksanaan:
Secara umum, tata cara pelaksanaannya sama dengan salat sunah lainnya, yaitu:
- Niat dalam hati untuk melaksanakan salat sunah Rawatib yang dikehendaki.
- Melaksanakan dua rakaat salam, atau empat rakaat salam untuk beberapa jenisnya.
- Dilaksanakan sendiri-sendiri (munfarid), tidak berjamaah.
- Dilakukan di luar waktu salat fardu yang mengiringinya.
Contoh salat sunah Rawatib yang mengiringi salat fardu:
- Mengiringi Salat Subuh:
- Dua rakaat sebelum Subuh (Rawatib Muakkadah).
- Mengiringi Salat Zuhur:
- Dua rakaat sebelum Zuhur (Rawatib Muakkadah).
- Dua rakaat sesudah Zuhur (Rawatib Muakkadah).
- Mengiringi Salat Ashar:
- Dua rakaat sebelum Ashar (Rawatib Ghairu Muakkadah).
- Mengiringi Salat Maghrib:
- Dua rakaat sesudah Maghrib (Rawatib Muakkadah).
- Mengiringi Salat Isya:
- Dua rakaat sesudah Isya (Rawatib Muakkadah).
Beberapa ulama juga menambahkan salat sunah empat rakaat sesudah Zuhur dan empat rakaat sesudah Isya sebagai bagian dari Rawatib Ghairu Muakkadah atau sebagai salat sunah malam yang terpisah. Keutamaan salat sunah Rawatib disebutkan dalam banyak hadis, di antaranya adalah akan dibangunkan rumah di surga bagi orang yang senantiasa melaksanakan salat sunah Rawatib.
Contoh Soal 4 (Sejarah Peradaban Islam):
Uraikan peran dan kontribusi utama Dinasti Abbasiyah dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam!
Pembahasan:
Dinasti Abbasiyah (750-1258 M) sering disebut sebagai masa keemasan peradaban Islam. Periode ini ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat, seni, dan budaya yang pesat. Peran dan kontribusi utama Dinasti Abbasiyah meliputi:
- Gerakan Penerjemahan (Bayt al-Hikmah): Salah satu kontribusi terbesar Abbasiyah adalah pendirian dan pengembangan Bayt al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) di Baghdad. Lembaga ini menjadi pusat intelektual dunia, di mana para ilmuwan dan penerjemah dari berbagai latar belakang (Kristen, Yahudi, Persia, India, Yunani) didatangkan untuk menerjemahkan karya-karya klasik dari berbagai bahasa (Yunani, Suriah, Persia, Sanskerta) ke dalam bahasa Arab. Kitab-kitab filsafat, kedokteran, matematika, astronomi, kimia, dan ilmu alam lainnya diterjemahkan, membuka jendela pengetahuan baru bagi dunia Islam.
- Perkembangan Ilmu Pengetahuan:
- Filsafat: Pemikiran filsafat Yunani diserap dan dikembangkan. Tokoh-tokoh seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina (Avicenna), dan Al-Ghazali memberikan kontribusi signifikan dalam filsafat Islam.
- Kedokteran: Rumah sakit (Bimaristan) didirikan di kota-kota besar, menjadi pusat pengobatan, penelitian, dan pendidikan kedokteran. Ibnu Sina dengan karyanya Al-Qanun fi al-Tibb (The Canon of Medicine) menjadi rujukan utama kedokteran di dunia selama berabad-abad.
- Matematika: Ilmuwan seperti Al-Khwarizmi mengembangkan aljabar dan algoritma (yang namanya diambil dari namanya), serta berperan dalam pengenalan angka Hindu-Arab ke dunia Islam dan Eropa.
- Astronomi: Observatorium didirikan, dan para astronom Abbasiyah melakukan observasi yang akurat, mengembangkan tabel astronomi, dan memperbaiki instrumen.
- Kimia: Jabir bin Hayyan dianggap sebagai bapak kimia modern, dengan eksperimen-eksperimen dan penemuan-penemuannya.
- Perkembangan Sastra dan Bahasa: Bahasa Arab menjadi bahasa universal ilmu pengetahuan. Sastra Arab berkembang pesat dengan munculnya pujangga-pujangga besar seperti Abu Nawas dan penyusun Seribu Satu Malam. Para ulama juga menyusun kamus, tata bahasa, dan karya-karya sastra lainnya.
- Arsitektur dan Seni: Pembangunan kota-kota baru seperti Baghdad yang megah, masjid-masjid indah, istana, dan perpustakaan menunjukkan kemajuan dalam arsitektur dan seni Islam. Seni kaligrafi dan miniatur juga berkembang pesat.
- Sistem Administrasi dan Pemerintahan: Dinasti Abbasiyah menerapkan sistem administrasi yang terorganisir dengan baik, yang memungkinkan pengelolaan kekhalifahan yang luas.
- Perdagangan dan Ekonomi: Perkembangan perdagangan yang pesat, terutama melalui jalur sutra, turut mendukung kemajuan ekonomi dan budaya.
Singkatnya, Dinasti Abbasiyah menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan intelektual dan budaya, menjadikannya fondasi penting bagi kemajuan peradaban manusia.
Tips Menghadapi PTS/UTS PAI Kelas 8 Semester 2:
- Pelajari Buku Teks dan Catatan: Pastikan Anda memahami semua materi yang diajarkan di kelas. Baca berulang kali dan buat ringkasan.
- Pahami Dalil dan Terjemahannya: Terutama untuk materi Al-Qur’an Hadis, hafalkan ayat-ayat pilihan dan hadis yang menjadi pokok bahasan, serta pahami maknanya.
- Latihan Soal: Kerjakan sebanyak mungkin contoh soal, baik dari buku paket, buku latihan, maupun dari sumber lain seperti artikel ini.
- Fokus pada Konsep Kunci: Identifikasi konsep-konsep penting dalam setiap bab dan pastikan Anda menguasainya.
- Buat Jadwal Belajar: Atur waktu belajar secara teratur, jangan menunda-nunda.
- Diskusi dengan Teman: Belajar bersama teman dapat membantu Anda memahami materi yang sulit dan bertukar pikiran.
- Istirahat Cukup dan Jaga Kesehatan: Kondisi fisik yang prima akan mendukung performa otak Anda saat ujian.
Dengan persiapan yang matang dan strategi belajar yang tepat, Anda pasti dapat menghadapi PTS/UTS PAI Kelas 8 Semester 2 dengan percaya diri dan meraih hasil yang gemilang. Selamat belajar!

Tinggalkan Balasan